-->

Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bocah 10 Tahun Tewas Ditabrak Rombongan Moge di Toraja Utara, Desakan Penegakan Hukum Tanpa Kompromi Menguat

Senin, 04 Mei 2026 | 10:24 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-04T02:25:43Z

Motor Harley Davidson terlibat kecelakaan di Kelurahan Nanggala Sangpiak Salu, Nanggala, Kabupaten Toraja Utara, Sulsel, pada Kamis (30/4). (dok.ist) 

PMTINEWS.com, Makassar l Tragedi kemanusiaan kembali terjadi di jalan raya. Seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun berinisial J meregang nyawa setelah ditabrak rombongan motor besar jenis Harley-Davidson di Kelurahan Nanggala Sangpiak Salu, Kecamatan Nanggala, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Kamis (30/4). 


Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas biasa, tetapi menjadi ujian serius bagi komitmen aparat penegak hukum dalam menegakkan keadilan tanpa pandang bulu.


Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun upaya penyelamatan tidak berhasil. “Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawanya tidak tertolong. Dinyatakan meninggal dunia,” ujar Kasat Lantas Polres Toraja Utara, Iptu Muhammad Nasrun Sujana, Sabtu (2/5).


Berdasarkan keterangan kepolisian, rombongan moge tersebut bergerak dari arah Palopo menuju Rantepao. Saat melintas di lokasi kejadian yang merupakan jalan lurus, salah satu pengendara berinisial RDN yang berperan sebagai sweeper tiba-tiba kehilangan kendali dan terjatuh dari motornya. 


Namun ironisnya, kendaraan yang ditungganginya tetap melaju tanpa kendali hingga sejauh kurang lebih 40 meter, sebelum akhirnya menghantam korban yang sedang berdiri di bahu jalan. Benturan keras itu membuat korban terpental hingga ke area persawahan.


Pihak kepolisian mengaku masih mendalami penyebab pasti insiden tersebut, termasuk kemungkinan adanya unsur kelalaian serius. Dugaan seperti aksi ugal-ugalan atau freestyle belum dapat dipastikan, namun justru di sinilah letak krusialnya: penyelidikan harus dilakukan secara transparan, menyeluruh, dan tidak setengah hati.


Rombongan motor gede yang berjumlah sekitar 15 unit diketahui berasal dari luar Sulawesi Selatan dan datang ke Toraja untuk tujuan wisata. Namun fakta bahwa sebagian rombongan telah kembali ke Makassar saat proses hukum masih berjalan memunculkan pertanyaan publik: apakah semua pihak yang terlibat telah dimintai keterangan secara maksimal? Apakah tidak ada potensi pengaburan fakta?


Kasus ini kini masih dalam tahap penyelidikan. Polisi menyatakan pengendara yang terlibat telah diamankan dan sedang diperiksa, sementara pengumpulan bukti seperti keterangan saksi dan rekaman CCTV terus dilakukan. “Kalau potensi tersangka itu, pasti ada,” tegas Nasrun.


Pernyataan ini harus dikawal dengan tindakan nyata. Penegakan hukum tidak boleh berhenti pada formalitas prosedural. Nyawa seorang anak telah hilang—dan itu bukan angka statistik, melainkan tragedi yang menuntut pertanggungjawaban jelas.


Publik menuntut agar aparat tidak gentar menghadapi siapa pun yang terlibat, termasuk jika pelaku berasal dari kelompok berpengaruh atau memiliki privilese sosial. Jalan raya bukan arena eksklusif bagi kelompok tertentu. Keselamatan warga, terlebih anak-anak, adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar.


Keadilan dalam kasus ini harus ditegakkan secara tegas, objektif, dan tanpa kompromi. Jika terbukti ada kelalaian atau pelanggaran hukum, maka proses pidana harus berjalan secara transparan hingga tuntas. Tidak boleh ada ruang bagi impunitas.


Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa hukum harus berdiri tegak di atas semua kepentingan—karena ketika nyawa melayang, keadilan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. (yusti) 

×
Berita Terbaru Update