-->

Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sambil Main Padel dan Bincang-Bincang Santai, JFK Ajak Fokus Bangun Objek Wisata Kualitas

Sabtu, 15 November 2025 | 05:58 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-15T00:03:58Z

Irjen Pol (P) Drs. Frederik Kala'lembang (kanan) dan putra bungsunya Efraim Kala'lembang (kiri), berfoto bersama di Mingle Padel Club Cibubur, Jawa Barat, Jumat (14/11) siang, (dok.rustan) 

PMTI NEWS.com, Jakarta l Toraja yang kini meliputi dua kabupaten, Tana Toraja dan Toraja Utara, dulu dikenal sebagai daerah tujuan wisata (DTW) nomor dua setelah Bali. Sekarang, julukan itu tidak ada lagi, tinggal kenangan. Karena itu, berbagai pihak berharap pariwisata Toraja kembali tumbuh dan berkembang hingga meningkat. Setidaknya, mengembalikan kejayaan pariwisata Toraja yang mencapai puncaknya di era awal tahun 1990-an, setelah mengalami perkembangan pesat tahun 1970-an. 


Perkembangan pariwisata Toraja dimulai secara signifikan pada tahun 1970-an, didorong oleh popularitas wisata adat dan budaya seperti rumah tradisional Tongkonan, upacara pemakaman Rambu Solo, dan makam di tebing batu. Industri perhotelan dan infrastruktur pendukung mulai dibangun pada era ini untuk menampung wisatawan yang terus bertambah. Namun, popularitas ini memudar setelah krisis ekonomi dan kerusuhan Poso yang terjadi di akhir tahun 1990-an. 


Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Indonesia telah berupaya mencanangkan kebangkitan pariwisata Toraja, termasuk penetapannya sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Irjen Pol (P) Drs. Frederik Kala’lembang, Anggota DPR RI yang juga putra Toraja, salah satu pihak yang menyorot merosotnya pariwisata Toraja ini. Kepada Rustan Serawak dari PMTINEWS, Jenderal Purnawirawan yang punya nama singkatan JFK ini menyampaikan pandangannya tentang pariwisata Toraja dengan memberi saran dan masukan. 


Ditemui di sela-sela main Padel di Mingle Padel Club Cibubur, Jawa Barat, Jumat (14/11) siang, dengan berbincang-bincang, Frederik Kala’lembang mengatakan, sejatinya tidak ada yang tidak mengenal Toraja. “Toraja itu kan tidak ada yang tidak kenal, Toraja Kota Pariwisata khususnya tahun 90an, orang hanya kenal Bali dan Toraja, tapi sekarang dari 10 destinasi pariwisata Indonesia saja Toraja tidak masuk. Saya lihat selama ini kita segala-galanya tidak pernah fokus dan kita mau cari objek wisata itu terlalu banyak, jadi mau mencari kuantitas bukan kualitas,” ujar Anggota Komisi 3 DPR RI dari Partai Demokrat ini. 


Frederik menambahkan, ada banyak objek wisata di Toraja tapi objek wisata yang benar-benar harus fokus. “Bangun sarana dan prasarana yang lengkap, jalannya, fasilitasnya, sanitasinya, air bersih dan sebagainya. Kemudian sarana internet, di dalam harus ada makanan, juga parkiran, Jadi kalau saya katakan, saya sudah sampaikan kepada kedua bupati di Toraja agar fokus, fokus ke objek wisata. Tuntun saja lima objek untuk tahun ini, tahun depan lima. Lima tahun kedepan berarti 25 objek wisata, disesuaikan dengan anggaran APBD yang ada. Kalau cuma bisa lima syukur-syukur kalau cukup APBDnya sepuluh dalam satu tahun tapi dengan harapan jalanannya bagus di objek itu, parkirannya bagus, pelayanannya bagus ya kan. Nah kalau semuanya itu bagus, lima saja ini, lima Tana Toraja dan lima Toraja Utara, berarti sepuluh orang satu hari saja itu tidak habis dikunjungi. Nah rata-kita wisatawan paling dua hari. Jadi kalau dia keliling lima hari objek wisata Tana Toraja pindah lagi Toraja Utara yang lebih kepada adat Rambu Solo’. Kalau Tana Toraja lebih kepada objek pemandangan dan sebagainya. Semuanya ini bisa dikolaborasi, pariwisata di Toraja terbelakang karena sarana dan prasarana yang masih terbelakang, yang kurang memadai. Bayangkan kalau orang datang, saya pernah datang, saya malas ke atas itu sama anak saya, di Negeri di Atas Awan, tapi infonya sudah bagus,” tutur Frederik.


Semua kekurangan yang ada dari pariwisata Toraja itu, kata pria yang pernah mengabdi 35 tahun di Polri, harus dibenahi. “Saya melihat ini, seperti mau mencari kuantitas bukan kualitas. Bupati harusnya fokus. Kadis Pariwisatanya panggil dan minta dia presentasikan, dia tentukan lima atau berapa objek wisata sesuai dengan anggaran. Kalau anggaran cuma 200 milyar bisa cuma lima ya lima ya kan tentu kita tidak bisa lepas dari pekerjaan yang lain. Mungkin dari total anggaran untuk pekerjaan konstruksi dan sebagainya, kita ambil setengah atau tiga perempat kita bawa ke objek wisata untuk benar-benar diberikan anggaran,” ucap Deputi Strategi Bakamla RI tahun 2018 ini.


Ditanya objek wisata kualitas dimaksud, Frederik menjawab perlengkapan fasilitas yang tersedia berkualitas dan sistemnya bagus. “Saya kira bagus kalau dilengkapi ada mushola. Nah kita harus begitu karena yang datang dari berbagai macam agama, kalau ada kenapa tidak, tetapi maksud saya itu yang penting tadi itu, disitu ada kerajinan, jadi orang mau cari barang-barang souvenir ada disitu, sehingga orang nggak kemana-mana dia menikmati pemandangan yang ada, yang tadinya satu jam bisa dua jam, dua bisa tiga jam, orang satu hari stay di hotel bisa dua hari atau tiga hari, dari situ baru besok dateline lagi objek, kan tidak bisa dijangkau satu hari, paling dia setengah hari atau sampai jam empat, sisanya ngopi dulu kayak di Bali, kita dari hotel ke hotel kita cari kopi di luar dengan menikmati pemandangan, nanti jam sepuluh atau jam sebelas baru kita star, hari ini berapa objek, dua di Tana Toraja dua di Toraja Utara jadi empat, tidak bakalan sampai sepuluh dengan selingan itu dia ke kafe-kafe, kafe kita perbaiki,” ucapnya. 


Frederik berharap kedua bupati, Tana Toraja dan Toraja Utara, fokus di 2026 untuk pariwisata Toraja. “Tentukan objek, tentukan kualitas, bukan kuantitas, bukan jumlah objeknya tetapi adakah kualitas. Persoalan nanti ada di luar lima atau yang pemerintah tentukan seperti Tongkonan itu kan dibiayai sendiri, dia memperbaiki sendiri, nah kalau kita layak untuk kita masukkan untuk program pemerintah berarti tambah satu berarti enam, kemudian kita juga undang travel untuk menjual objek-objek ini sebagai marketing pemerintah. Jadi lima ini ditambah objek wisata lainnya dengan biaya mandiri. Kemudian kita undang juga para pemilik hotel atau manajernya,” jelasnya. 


Dengan demikian, kata Frederik, jika wisatawan kemana-mana bisa mampir ngopi dengan mencicipi kopi Toraja serta membeli ole-ole Toraja. “Jadi semuanya sudah siap, ada sinkronisasi karena semua ini sistem, nanti dia ke tempat itu jadi jangan setengah-setengah. Objek wisatanya bagus, sarana dan prasarana, sistem dan internetnya ada, sekarang orang tanya internetnya ada nggak, orang juga sambil internet tentu dia pasti ke kafe ngopi dan pakai internet. Di situ ekonomi tumbuh dan semua bertumbuh, orang datang di situ semua bawa duit, baru pajaknya ditertibkan dengan sistem online, jadi objek wisata di pajak,” tutup Frederik. (rony rumengan) 

×
Berita Terbaru Update