-->

Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Oma Bura Kembali Bersuara: Dari Gerakan Antikorupsi hingga Sorotan Mafia Tanah

Senin, 31 Agustus 2026 | 07:49 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-30T23:49:03Z

Oma Bura menerima kedatangan Tommy Tiranda, Drs. Rony Rumengan, dan Garin Bulo di kediamannya di KM 6 Mengkendek, Toraja Utara, Minggu (30/8) malam. (dok.bram) 

PMTINEWS.com, Makassar l Nama Yuli Parantean Bura atau yang akrab disapa Oma Bura kembali menjadi perhatian. Sosok yang pernah dikenal di kalangan aktivis sebagai figur penggerak kontrol terhadap pemerintahan Toraja itu menerima kunjungan Tommy Tiranda dan Drs. Rony Rumengan, Ketua Yayasan Peduli Tondok Toraya sekaligus Pemimpin Umum Media Cyber PMTINews, di kediamannya, KM 6 Mengkendek, Minggu (30/8) malam.


Pertemuan yang awalnya berlangsung sebagai silaturahmi berubah menjadi perbincangan panjang tentang wajah Toraja hari ini.


Berbagai persoalan dibahas, mulai dari tata kelola pemerintahan, gerakan antikorupsi, kondisi sosial masyarakat, hingga sengketa pertanahan yang dinilai perlu mendapat perhatian serius.


Oma Bura bukan sosok baru dalam dinamika gerakan masyarakat Toraja. Pada era pemerintahan Bupati Tana Toraja Johanis Amping Situru, jauh sebelum pemekaran dan terbentuknya Kabupaten Toraja Utara, ia dikenal oleh sejumlah aktivis dan penggiat antikorupsi sebagai salah satu figur yang aktif menyuarakan pentingnya pemerintahan yang bersih dan berintegritas.


Sejumlah jurnalis yang pada periode 2000–2010 aktif melakukan kontrol terhadap Pemerintah Kabupaten Tana Toraja juga mengenal kiprah tersebut.


Karena pengaruh dan keberaniannya menyampaikan pandangan, sebagian kalangan bahkan menjulukinya “Srikandi” dan “Guru Pergerakan” Toraja.


Sosok Oma Bura juga kerap dikaitkan dengan kiprah mendiang suaminya, Laksamana Pertama (Laksma) TNI Benyamin Bura, mantan Anggota DPD RI. Nama Benyamin Bura dikenal dalam perjalanan politik dan representasi masyarakat Toraja di tingkat nasional.


Dalam pertemuan tersebut, Oma Bura kembali mengkritisi sejumlah persoalan yang menurut pandangannya masih membayangi perkembangan Tana Toraja dan Toraja Utara.


Ia menyoroti kondisi pemerintahan dan kehidupan sosial masyarakat yang dinilainya masih membutuhkan pembenahan. Bagi Oma Bura, pembangunan daerah bukan semata soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut integritas penyelenggara pemerintahan dan keberanian masyarakat melakukan kontrol.


Sorotan kemudian mengarah pada persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk narkoba dan prostitusi.


Isu pertanahan juga menjadi salah satu pembahasan serius. Oma Bura menyinggung sengketa lahan antar warga serta dugaan adanya praktik yang oleh sebagian pihak dicurigai berkaitan dengan mafia tanah.


Oma Bura jamu makan malam. (dok.bram) 


Namun, tudingan tersebut masih memerlukan pembuktian dan penanganan melalui mekanisme hukum. Tidak tepat apabila dugaan tersebut langsung dianggap sebagai fakta sebelum terdapat bukti dan keputusan dari pihak berwenang.


Oma Bura sendiri mengungkapkan masih memiliki urusan pertanahan yang belum selesai sehingga rencana kepulangannya ke Jakarta harus ditunda. “Ini saja sebenarnya saya sudah mau balik Jakarta, tapi masih ada urusan sedikit masalah tanah saya,” ujar Oma Bura.


Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan tanah bukan sekadar isu yang dibicarakan dari kejauhan. Bagi Oma Bura, persoalan pertanahan juga bersentuhan langsung dengan urusan yang sedang dihadapinya.


Pertemuan berlangsung semakin hangat ketika Oma Bura bersama putrinya, Yori atau Mama Grace, menyiapkan makan malam untuk para tamu.


Rony dan Tommy datang bersama sahabat mereka, Garin Bulo, yang ditemani putranya, Abraham.


Di sela makan malam, perbincangan mengenai Toraja kembali mengalir. Masa lalu, kondisi pemerintahan, persoalan sosial, hingga berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat menjadi bahan diskusi.


Pertemuan Berakhir


Namun, ada satu pesan yang terasa kuat dari perbincangan tersebut, yakni kontrol terhadap pemerintahan dan persoalan publik tidak boleh berhenti hanya karena waktu berganti.


Bagi mereka yang pernah mengikuti dinamika gerakan masyarakat Toraja, pertemuan dengan Oma Bura seakan kembali membuka lembaran lama tentang keberanian menyuarakan pemerintahan yang bersih.


Kini pertanyaannya, mampukah semangat kontrol dan gerakan antikorupsi tersebut kembali menemukan momentumnya di tengah berbagai persoalan yang masih muncul di Tana Toraja dan Toraja Utara?(james)

×
Berita Terbaru Update