![]() |
| Foto bersama Sesepuh dan Pengurus IKAT Jabodetabek dengan Kontingen Pramuka Jambore Nasional asal Tana Toraja dan Toraja Utara. (dok.rustan) |
PMTINEWS.com, Jakarta l Sejumlah sesepuh dan pengurus Ikatan Keluarga Toraja (IKAT) Jabodetabek berbagi pengalaman hidup dan perjalanan karier kepada Kontingen Pramuka asal Toraja yang mengikuti Jambore Nasional di Jakarta.
Pertemuan berlangsung di Telaga Seafood, Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (20/8), dalam suasana santai dan penuh kekeluargaan. Para tokoh Toraja mendorong peserta agar tekun belajar, berani bermimpi, tidak takut gagal, serta terus berusaha meraih cita-cita.
Kontingen Toraja yang mengikuti Jambore Nasional terdiri atas 60 peserta dari Tana Toraja dan 50 peserta dari Toraja Utara. Mereka merupakan pelajar SMP berusia 11 hingga 15 tahun, didampingi 30 peninjau dan pembina.
Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Jonathan Limbong Para’pak, Ronny Tulak, Andi Arvi, Bobby Sangka, Ferry Latanna, Alfred Tanduk Palembangan, dan Pieter Sampetoding.
Wakil Ketua IKAT Jabodetabek, Bobby Sangka, mengatakan pertemuan tersebut merupakan bentuk perhatian sekaligus dukungan moral kepada generasi muda Toraja.
“Ini kegiatan untuk memberikan perhatian dan motivasi dengan berbagi pengalaman kepada anak-anak asal Toraja. Harapannya, mereka semakin bersemangat belajar dan mengejar cita-cita,” kata Bobby melalui sambungan telepon selular, Jumat (21/8).
Menurut Bobby, gagasan pertemuan tersebut berawal dari Ratnasari Rante, istri Ronny Tulak. Setelah mengetahui adanya delegasi Toraja yang mengikuti Jambore Nasional, pengurus IKAT Jabodetabek berinisiatif bertemu dan memberikan motivasi secara langsung.
Kisah Sukses Jadi Pelajaran
Di hadapan para peserta, Jonathan Limbong Para’pak berbagi kisah perjalanan pendidikannya. Ia menceritakan bagaimana dirinya menempuh pendidikan dari kampung hingga melanjutkan studi ke University of Tasmania, Australia.
Setelah kembali ke Indonesia, karirnya terus berkembang. Pada usia 31 tahun, ia dipercaya menjadi Direktur Utama Indosat. Kariernya kemudian berlanjut hingga menduduki posisi Sekretaris Jenderal Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel). Saat ini, ia menjabat sebagai Rektor Universitas Pelita Harapan.
![]() |
| Tampak Bobby Sangka bersama para peserta Jambore Nasional asal Toraja. (dok.rustan) |
Bobby Sangka juga membagikan pengalaman pendidikannya. Lulusan Washington State University itu mendirikan PT Metrocom Global Solusi pada 1998. Pada usia 32 tahun, ia dipercaya menjadi Presiden Direktur perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi tersebut.
Menurut Bobby, perusahaan yang dibangunnya kini telah berkembang menjadi tujuh anak perusahaan dengan sekitar 600 karyawan dan telah beroperasi selama 28 tahun.
Sementara itu, Ronny Tulak menekankan pentingnya keberanian menghadapi perubahan dan kegagalan. Menurut dia, perubahan merupakan bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari. Setiap orang akan mengalami perubahan seiring bertambahnya usia, pengalaman, lingkungan, dan perjalanan karier.
“Jangan pernah takut gagal. Jatuh, berdiri lagi. Kalah, mencoba lagi. Gagal, bangkit lagi. Jangan pernah menyerah. Yang pantang adalah merencanakan untuk gagal,” pesan Ronny, mantan Sekretaris Jenderal Komisi Yudisial.
Ia juga meyakini dari para peserta jambore tersebut kelak akan lahir generasi yang mampu mencapai prestasi lebih tinggi. “Saya percaya diantara adik-adik akan ada yang berhasil, bahkan bisa melampaui capaian kami saat ini,” ujarnya.
Dari Juara Sekolah hingga Dunia Pertambangan
Pieter Sampetoding turut membagikan kisah perjalanan pendidikannya. Menurut Bobby, sejak SD hingga SMA, Pieter dikenal sebagai siswa berprestasi dan kerap meraih peringkat pertama. Prestasinya berlanjut hingga tingkat Provinsi Sulawesi Selatan sebelum akhirnya menyelesaikan pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Teknik Kimia. "Saya kuliah di UGM Jurusan Teknik Kimia," katanya.
Karirnya dimulai dari PT. Vale Indonesia (dulu, PT. INCO), kemudian hijrah ke PT. Sinar Mas Forestry sebagai Executive Director. Setelah itu ke PT. Pembangunan Perumahan, sebuah BUMN Karya/ Konstruksi. Kini, Pieter bekerja di PT. Ceria Corp, sebuah Perusahaan Pertambangan dan Smelter Nikel, sebagai Chairnan Executive Advisor, dan Direktur Utama PT. Ceria Jasatambang Pratama.
Tokoh lainnya, Alfred Tanduk Palembangan, merupakan lulusan Universitas Hasanuddin dan diplomat karier. Ia pernah dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Venezuela, Kuba, serta merangkap untuk Bahama, Republik Dominika, Haiti, dan Jamaika.
Motivasi juga disampaikan dokter spesialis mata, Andi Victor (Arvi). Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini menceritakan perjalanan pendidikannya hingga menjadi Guru Besar. Andi Arvi juga dikenal memiliki kepedulian sosial dengan membantu masyarakat kurang mampu mendapatkan pelayanan operasi mata secara gratis.
Ketua IKAT Jabodetabek, Ferry Latanna, yang tiba belakangan tetap menyempatkan diri memberikan apresiasi dan dorongan kepada para peserta. “Apa yang disampaikan para sesepuh tadi tidak perlu saya ulangi. Intinya, tetap semangat dan rajin belajar,” kata Ferry.
Pertemuan kemudian ditutup dengan doa makan bersama yang dipimpin Pdt. Adrial Lintin. Sebelum doa, ia sempat menanyakan cita-cita peserta. “Adakah di antara adik-adik yang bercita-cita menjadi pendeta?” tanyanya. Dua peserta langsung mengangkat tangan.
Pertemuan yang berlangsung sejak pukul 17.30 hingga 22.00 WIB itu ditutup dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Para peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman dan nasihat, tetapi juga melihat langsung kisah perjuangan sejumlah tokoh Toraja dalam menempuh pendidikan dan membangun karier.
Bagi para peserta Jambore Nasional, pertemuan tersebut menjadi pesan sederhana: pendidikan, kerja keras, keberanian dan pantang menyerah dapat menjadi jalan untuk meraih cita-cita. (rustan)


